Home / Kegiatan / Coffee Warming ICLEI – The Role of Religious Institution in Mainstreaming Climate Change
IMG_0022

Coffee Warming ICLEI – The Role of Religious Institution in Mainstreaming Climate Change

Jakarta, 28 Mei 2019. Yayasan ICLEI – Local Governments for Sustainability menyelenggarakan acara diskusi sore dengan tajuk Coffee Warming, The Role of Religious Institution in Mainstreaming Climate Change atau peran institusi agama dalam mendukung aksi perubahan iklim. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk berbagi informasi pentingnya peran institusi agama dalam mendukung aksi perubahan iklim, dan juga sebagai wadah berjejaring antara pemerintah dengan LSM yang bergerak dibidang perubahan iklim.

Acara dibuka oleh Country Manager ICLEI dan menghadirkan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLHSDA MUI) sebagai narasumber, serta Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH) hadir sebagai penanggap. Turut hadir juga unsur Pemerintah Provinsi DKI (Dinas Lingkungan Hidup/DLH), Mercycorps, URDI, Indonesia Climate Alliance, The Nature Conservancy, APEKSI, UCLG dan Sekretariat Jakarta Berketahanan.

Dalam diskusi, disampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumah penduduk terbesar yang tidak percaya pada perubahan iklim (Berdasarkan data The Guardian, 2018, tautan: https://www.theguardian.com/environment/2019/may/07/us-hotbed-climate-change-denial-international-poll.

Krisis lingkungan hidup merupakan krisis moral, yang mana untuk menyelesaikannya membutuhkan kesadaran dari setiap individu untuk melakukan pembenahan perilaku lebih ramah lingkungan. Pendekatan melalui sisi keagamaan di Indonesia menjadi efektif untuk meningkatkan kesadaran dan merubah perilaku masyarakat, mengingat masyarakat Indonesia yang agamawi.

Terkait dengan hal tersebut, MUI sedang menerapkan program eco-masjid, yaitu program yang bertujuan menjadikan masjid sebagai pusat pembelajaran dan percontohan pelestarian lingkungan. Beberapa hal yang dilakukan seperti pembenahan bangunan masjid menjadi lebih ramah lingkungan (pemasangan sistem pengolahan air, sumur resapan, dan tadah hujan), sekaligus memberikan pembinaan kepada pengurus masjid.

Selain itu, MUI juga telah menghasilkan 6 (enam) fatwa yang dapat digunakan sebagai referensi dalam melakukan kegiatan, yaitu tentang: (i) Air Daur Ulang; (ii) Pertambangan Ramah Lingkungan; (iii) Pelestarian Satwa Langka; (iv) Pengelolaan Sampah; (v) Pembakaran Hutan dan Lahan; dan (vi) ZISWAF untuk Air dan Sanitasi.

ICLEI bekerjasama dengan Kedeputian TRLH dan LPLHSDA MUI melalui program Ikhtiar Jakarta/Ambitious City Promises(ACP) juga turut berkontribusi dengan menyusun: (i) buku perubahan iklim dalam perspektif agama; (ii) panduan rumah ibadah ramah lingkungan; dan (iii) modul eco-preachingatau khotbah keagamaan yang berkaitan dengan isu perubahan iklim.

IMG_0024 IMG_0027

 

Check Also

swot (2)

SWOT Workshop Strategic Appraisal Revisi Rencana Aksi Daerah Penurunan Gas Rumah Kaca dan Adaptasi Perubahan Iklim

Jakarta, 14 Juni 2019. Kedeputian Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup bekerjasama dengan C40 melaksanakan …