Home / Kegiatan / Forum Pengelolaan Kualitas Udara dengan agenda
udara (2)

Forum Pengelolaan Kualitas Udara dengan agenda

udara (2) udara (4) udara (7)

Jakarta, 25 Juni 2019. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Kedeputian Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), bekerjasama dengan Vital Strategy menyelenggarakan Pertemuan Forum pengelolaan kualitas udara DKI Jakarta. Pertemuan kali ini menghadirkan dua pemateri : 1) Paparan “Mewujudkan Jakarta Hijau Dengan Penggunaan Energi Bersih untuk Pembangkit Listrik PLN” oleh PT PLN; 2) Paparan “Pengaruh Polusi Batubara pada Kesehatan” oleh Greenpeace Indonesia. Beberapa hal penting dalam pertemuan tersebut adalah:

  1. Menurut data dari Green Peace Indonesia bahwa DKI Jakarta merupakan peringkat 10 terburuk dalam kualitas udara sedangkan Beijing menduduki peringkat ke 8.
  2. Sumber polusi udara di DKI Jakarta yang utama adalah sektor transportasi sedangkan sumber lain yang besar adalah PLTU Batu Bara milik PLN yang berada disekitar DKI Jakarta ditambah lagi PLTU milik swasta yang belum terdata.
  • Penyakit Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) merupakan 10 besar penyakit yang sering ditemui di Rumah Sakit dan Puskesmas DKI Jakarta.
  1. Kandungan merkuri yang terdapat di Teluk Jakarta sangat tinggi diduga akibat Fly Ash hasil pembakaran boiler batu bara.
  2. Saat ini DKI Jakarta baru memiliki 9 alat ukur kualitas udara, seharusnya DKI Jakarta memiliki 25 alat ukur dan ideal yang diperlukan sebanyak 66 alat ukur kualitas udara.
  3. DKI Jakarta tidak terdapat PLTU Batu Bara melainkan PLTU Gas yang ramah lingkungan. PLTU Gas tersebut berada di Tanjung Priuk dan Muara Karang. Kebutuhan listrik DKI Jakarta sebesar 5.200 Mega Watt saat ini baru terpenuhi 4.100 Mega Watt. Kekurangan Listrik sebesar 1.100 Mega Watt disupply dari PLN Jalur Jawa-Bali.
  • Beberapa PLTU milik PLN sudah mendapat penghargaan Proper Hijau dari Kementerian LHK yang artinya sudah memenuhi baku mutu dan ramah lingkungan.
  • PLN mendorong penerapan teknologi ramah lingkungan seperti penggunaan Power Bank sebagai pengganti Genset, Solar Cell Roof Top, Taxi Listrik (Blue Bird) dan Bus Listrik Transjakarta dan lain-lain.
  1. Transportasi Massal DKI Jakarta seperti MRT memerlukan listrik sebesar 65 juta Watt, LRT 34 Juta, Transportasi Komuter Line Bogor-Jakarta seluruhnya disupply dari PLN.
  2. Sesuai data dari PLN sebanyak 10% dari pelanggan PLN sudah mulai beralih ke Energi Batu Terbarukan (EBT) menggunakan Solar Roof Top.
  3. Penggunaan Power Bank PLN dua kali lebih efisien daripada penggunaan Genset dalam support energi yang bersifat portable.
  • PLN menargetkan pada tahun 2025 akan meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% atau penggunaan Batu Bara sebesar 65 Juta Ton Turun menjadi 52 Juta Ton.

Pertemuan tersebut dipimpin oleh Deputi TRLH dan dihadiri oleh Pemerintah Pusat (Kementerian Perhubungan; Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG); Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN)), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Dinas Lingkungan Hidup; Dinas Perhubungan; Dinas Perindustrian dan Energi; Dinas Kesehatan), Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), Perwakilan Negara Sahabat (US. Embassy), NGO (Majelis Ulama Indonesia (MUI); ICLEI; Vital Strategies; Sekretariat Jakarta Berketahanan; CIMSA; Center for Energy Research Asia (CERA); PT PLN (Persero); Greenpeace Indonesia; Dewan Riset Daerah (DRD); WWF; Walhi Indonesia.

Check Also

WhatsApp Image 2019-09-18 at 3.51.02 PM

Wawancara Mahasiswa Universitas Tarumanegara (UNTAR)

Jakarta, 17 September 2019. Mahasiswa Magister dari UNTAR, Ivan Billy Zaini, berkunjung ke kantor Kedeputian Gubernur …