Home / Jakarta Berketahanan / Hari Keempat – 2019 Urban Resilience Summit
WhatsApp Image 2019-07-11 at 21.20.43

Hari Keempat – 2019 Urban Resilience Summit

Rotterdam, 11 Juli 2019.

Kegiatan 2019 Urban Resilience Summit ini merupakan ajang berbagi kesempatan bagi para pesertanya untuk belajar dari berbagai praktik unggulan (best practices) yang telah dilakukan oleh kota Rotterdam dalam menyelesaikan berbagai isu perkotaan yang dialami. Kegaitan ini turut dihadiri oleh para pemimpin dan perwakilan kota yang tergabung dalam jejaring 100RC, mitra, dan sponsor 100RC.

Pada hari keempat, kegiatan ini terbagi ke dalam 3 (tiga) sesi, yaitu: (i) Sesi Disksui Tematik, (ii) Sesi Diskusi Bebas, dan (iii) Sesi Penutupan.

Sesi diskusi tematik dirancang untuk memancing diskusi terkait berbagai tema penting dalam kegiatan 2019 Urban Resilience Summit. Pemprov DKI Jakarta dan Sekretariat Jakarta Berketahanan turut hadir dalam tema Circular Cities: Partnering against Plastic and Marine Debris. Sesi diskusi bebas mempersilahkan peserta kegiatan untuk saling bertukar pikiran terkait isu bebas. Pemprov DKI Jakarta dan Sekretariat Jakarta Berketahanan turut hadir dalam diskusi terkait (i) pengarusutamaan isu ketahanan kota dalam konferensi dunia tentang perubahan iklim (COP 25) di Chile dan (ii) mitigasi menghadapi bencana gempa. Sedangkan, sesi penutupan dilaksanakan untuk mendiskusikan langkah ke depan selepas berakhirnya masa tugas organisasi 100RC di Juli 2019.

Sesi diskusi tematik Circular Cities: Partnering against Plastic and Marine Debris dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan terkait isu sampah yang selama ini berfokus linier (konsumsi produk -> buang) menjadi daur ulang/recycle (konsumsi -> residu dimanfaatkan kembali -> buang) dengan harapan menjadi sirkular/circular (hampir tidak ada residu dari konsumsi produk). Sesi ini menghadirkan diskusi dan pembelajaran dari beberapa kota dan mitra dalam Jejaring 100 Resilient Cities (100RC) yang berfokus pada pengelolaan sampah berkelanjutan dan circular economy, yaitu:

  • (i) Ocean Conservancy (NGO yang berfokus pada pelestarian laut dari sampah plastik);
  • (ii) Kota Kigali, Rwanda (kota yang berfokus untuk mengurangi produksi sampah plastik);
  • (iii) Coca Cola cabang Yunani (pionir circular economy dari pihak swasta);
  • (iv) Kota Thessaloniki, Yunani (kota yang bekerja sama dengan pihak swasta terkait isu circuar economy); dan
  • (v) Second Muse (perusahaan yang berfokus untuk membimbing perusahaan lain dan kota berkembang sekaligus mempedulikan pelestarian lingkungan).

Pada Sesi ini, terdapat beberapa hal penting yang dibahas berupa:

  1. Ocean Conservancy
    • Telah berdiri selama 33 tahun, Ocean Conservancy sudah mengumpulkan lebih dari 150 juta kg sampah lautan di 153 negara. Mayoritas sampah tersebut berasal dari sampah plastik (ditemukan sebanyak 8 juta ton per tahun). Sebesar 80% dari sampah tersebut berasal dari daratan. Jika kondisi ini berlanjut, sampah plastik akan menimbulkan dampak buruk bagi kota, pedesaan, iklim, dan bahkan kesehatan penduduk. Diperlukan kolaborasi dan kemauan (willingness) kuat dari pemangku kepentingan untuk menyelesaikan isu sampah plastik secara menyeluruh.
  2. Kota Kigali, Rwanda
    • Kigali ingin menjadi kota bebas plastik pertama di benua Afrika. Hal ini dilaksanakan dengan peningkatan kesadaran pemangku kepentingan serta penguatan regulasi terkait penggunaan dan produksi plastik.
  3. Coca Cola cabang Yunani
    • Coca Cola berdedikasi untuk mengurangi sampah yang dihasilkan dari produknya dengan menginisiasi ‘zero waste future‘ (sebuah gerakan dengan melibatkan konsumen). Terdapat 3 (tiga) hal penting terkait ‘zero waste future‘, yaitu: (i) Intervensi dengan kajian untuk mencegah penggunaan plastik dan meningkatkan sistem pengelolaan sampah kota; (ii) Edukasi dengan mengembangkan museum interaktif dengan tema ‘zero waste labs‘; dan (iii) Perubahan Perilaku melalui kompetisi terkait pengembangan dan pelaksanaan circular economy di kota.  Target dari inisiasi ini adalah mengurangi produksi sampah kota menjadi 75-100 Kg/orang/tahun sehingga dapat dikatakan sebagai zero waste city. Saat ini, Coca Cola cabang Yunani teah berhasil menjangkau lebih dar 100ribu orang dan mengumpulkan lebih dari 90 Juta ton sampah.
  4. Kota Thessaloniki, Yunani
    • Salah satu pilar ketahanan kota Thessaloniki adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini dilihat sejalan dengan konsep circular economy yang dapat memberikan lapangan pekerjaan sekaligus memberikan dampak langsung terhadap pelestarian lingkungan. Kota Thessaloniki memutuskan untuk berkolaborasi dengan Coca Cola untuk mengimplementasikan konsep circular economy yang dapat membantu menciptakan lapangan pekerjaan.
  5. Second Muse
    • Perusahaan ini berfokus untuk membimbing perusahaan lain dan kota berkembang sekaligus mempedulikan pelestarian lingkungan, terutama terkait sampah plastik. Perusahaan ini melihat cara terbaik untuk melaksanakan fokusnya tersebut adalah dengan mengembangkan potensi ekonomi lokal yang bersahabat dengan lingkungan.

Selain itu, diskusi tematik juga berusaha menggali potensi pengelolaan sampah berkelanjutan dan circular economy dari kota Semarang. Beberapa hal penting yang dibahas berupa:

  • Kota Semarang merupakan kota yang dilewati oleh 19 sungai dan memiliki penduduk sebesar 1,7 Juta jiwa.
  • Produksi sampah Semarang mencapai 1200 ton/hari dengan rincian 2,2% dibakar oleh penduduk, 13% dibuang sembarangan, 77% dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan sisanya didaur ulang. 60% darisampah tersebut merupakan sampah organik dan 16% di antaranya adalah plastik.
  • Semarang telah memiliki skema bank sampah untuk mengurangi produksi sampah dari sumber, namun hal tersebut dipandang belum optimal.
  • Semarang dipandang perlu untuk melakukan top-down Approach (regulasi dan pelayanan sampah dari pemerintah) sekaligus bottom-up approach (peningkatan kesadaran, pelibatan masyarakat).
  • Mengembangkan infrastruktur yang menjebak sampah (litter trap) di selokan juga menjadi salah satu solusi untuk mencegah sampah untuk terbuang ke sungai dan laut.
  • Kolaborasi dengan produsen makanan dan minuman kemasan juga dirasa dapat mengurangi produksi dan/atau timbulan sampah kota Semarang.

Sesi Diskusi Bebas yang diikuti oleh Pemprov DKI Jakarta dan Sekretariat Jakarta Berketahanan merupakan diskusi terkait (i) pengarusutamaan isu ketahanan kota dalam konferensi dunia tentang perubahan iklim (COP 25) di Chile dan (ii) mitigasi menghadapi bencana gempa. Konsep kota berketahanan juga menyasar untuk bersiap dalam menghadapi guncangan dan tekanan, termasuk dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, dirasa penting untuk mengangkat isu ketahanan kota dalam COP 25 di Chile mengingat kontribusi perwujudan kota berketahanan juga berkaitan erat dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Bencana gempa bumi juga menjadi salah satu topik utama yang dianggap masih mengancam berbagai kota di dunia. Bangunan tinggi yang berada di kota menjadi salah satu perhatian utama dalam diskusi ini. Bangunan tinggi dianggap sebagai aset yang rentan dalam konteks bencana gempa bumi. Oleh karena itu, peraturan bangunan gedung (building codes) yang memadai dan tepat guna dipandang penting untuk mengurangi dampak bencana gempa bumi.

Sesi Penutupan ini juga kembali menekankan pentingnya membangun ketahanan kota dengan membangun kampiun (champions) yang berani mengambil langkah ke depan (act) dengan berkolaborasi (initiate partnership) sehingga bisa membiayai seluruh upaya yang dilakukan (funding). Meskipun setelah Juli 2019 program 100RC akan dilanjutkan dalam format baru bertajuk “Climate and Resilience Initiative” yang akan melanjutkan jejaring (kota, mitra, dan dukungan teknis 100RC) dengan format yang berbeda; seluruh kota diharapkan tetap dapat menjaga hubungan baik dan tetap saling mendukung dalam membangun ketahanan kota.

 

 

 

Check Also

WhatsApp Image 2019-09-18 at 3.51.02 PM

Wawancara Mahasiswa Universitas Tarumanegara (UNTAR)

Jakarta, 17 September 2019. Mahasiswa Magister dari UNTAR, Ivan Billy Zaini, berkunjung ke kantor Kedeputian Gubernur …