Home / Kliping / Pemprov DKI: Revitalisasi Trotoar Tak Sumbang Pencemaran Udara secara Signifikan
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Pemprov DKI: Revitalisasi Trotoar Tak Sumbang Pencemaran Udara secara Signifikan

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan, proyek revitalisasi trotoar tidak menyumbang pencemaran udara Jakarta secara signifikan. Dia menyebut sumber utama pencemaran udara Jakarta adalah kendaraan bermotor. “Nyaris tidak berpengaruh. Kalau pun ada pengaruh, sangat tidak signifikan,” ujar Andono, Jumat (26/7/2019).

Data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan, 75 persen sumber pencemaran udara berasal dari transportasi darat. Pembakaran industri dan pembakaran domestik masing-masing menyumbang 8 persen pencemaran udara. Sementara pembangkit listrik dan pemanas menyumbang 9 persen atas pencemaran tersebut. Berdasarkan hasil kajian Breathe Easy Jakarta, Andono menyebut, proyek-proyek pembangunan di Jakarta hanya menyumbang 4 persen sumber pencemaran udara Jakarta. Itu pun tidak murni proyek revitalisasi trotoar. “Kalau pun pembangunan berdampak 4 persen, itu enggak hanya (revitalisasi) trotoar, ada pembangunan gedung, LRT, Tol Becakayu, dan lain-lain,” kata dia.

Sebagai antisipasi agar debu proyek pembangunan tidak mempengaruhi kualitas udara Jakarta, Pemprov DKI meminta para kontraktor untuk menyiram lokasi proyek secara rutin. Penyiraman merupakan bagian dari standard operational procedure (SOP) yang harus dijalankan pelaksana proyek pembangunan di Jakarta. “Kami telah meminta para pelaksana proyek-proyek tersebut untuk secara rutin melakukan SOP penyiraman air secara rutin, agar debu yang berterbangan tidak terlampau tinggi,” ucap Andono.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Pemprov DKI: Revitalisasi Trotoar Tak Sumbang Pencemaran Udara secara Signifikan”, https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/26/12014391/pemprov-dki-revitalisasi-trotoar-tak-sumbang-pencemaran-udara-secara.
Penulis : Nursita Sari
Editor : Irfan Maullana

Check Also

Pekerja akan memindahkan sejumlah tiang yang menghalangi jalur sepeda di Jalan Asia Afrika, Jakarta, Rabu (01/08/2018). Jalur sepeda di sepanjang jalan ini terhalang beberapa tiang lampu penerangan jalan umum (PJU), tiang lampu lalu lintas, hingga tiang rambu penunjuk jalan.(KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Perluasan Jalur Sepeda, Efektifkah untuk Mengurangi Polusi Udara?

KOMPAS.com – Bersepeda sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat DKI Jakarta. Ada yang menggunakannya …