Home / Kegiatan / Lokakarya Program Ambitious City Promises/Ikhtiar Jakarta: Peran Komunitas Keagamaan
IMG-20190812-WA0018

Lokakarya Program Ambitious City Promises/Ikhtiar Jakarta: Peran Komunitas Keagamaan

Bogor, 8 Agustus 2019. Yayasan ICLEI – Local Government for Sustainability menyelenggarakan lokakarya dalam rangka merumuskan aksi prioritas, target, dan rencana aksi Program Ambitious City Promises(ACP)/Ikhtiar Jakarta.  Program Ambitious City Promises(ACP)/Ikhtiar Jakarta adalah program yang diinisiasi oleh ICLEI bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta, dan bertujuan untuk mengarustamakan pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang partisipatif dan inklusif. Lokakarya yang diselenggarakan kali ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian lokakarya yang telah diselenggarakan sebelumnya, dan berfokus pada peran aktif komunitas keagamaan dalam pengarustamaan pengurangan emisi GRK.

Lokakarya tersebut dibuka oleh Asisten Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Lingkungan Hidup, dan dihadiri oleh unsur Pemerintah Pusat (Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia/LPLH SDA MUI, Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta/Depag), unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Dinas Lingkungan Hidup/DLH), dan komunitas-komunitas perwakilan dari 6 (enam) agama di Indonesia (Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Budha, KhongHucu).

Dalam lokakarya tersebut, disepakati bahwa komunitas keagamaan dapat terlibat aktif dalam pengurangan emisi GRK melalui beberapa hal, yaitu:

  1. Perumusan panduan Umum tentang perubahan iklim dan pelestarian lingkungan hidup dari perspektif agama;
  2. Perumusan panduan rumah ibadah ramah lingkungan (Eco-Rumah Ibadah);
  3. Penyusunan modul ceramah/khotbah ramah lingkungan (Eco-Khotbah).

Selain diskusi, peserta lokakarya juga diajak berkunjung ke Masjid Az-Zikra di Sentul, Bogor,  yang merupakan percontohan rumah ibadah ramah lingkungan Program Eco-Masjid. Program Eco-Masjid merupakan program yang telah diinisiasi oleh MUI dan bertujuan untuk mengajak warga dan jamaah agar senantiasa menjaga kelestarian hutan dan lingkungan sekitar melalui dakwah, baik lisan, tulisan maupun tindakan yang nyata. Melalui program tersebut, Masjid Az-Zikra dibangun dengan empat prinsip utama Eco-masjid, yaitu: (i) penghijauan; (ii) konservasi air; (iii) sanitasi; dan (iv) pengolahan sampah. Salah satu contoh dari penerapan prinsip Eco-masjid, Az-Zikra dapat menghemat penggunaan air hingga 10 liter per harinya. penghematan tersebut didapat melalui pengolahan kembali air hujan dan air bekas wudhu, serta penanaman alat di kran air yang berfungsi memperkecil volume air yang keluar dari kran air. Selain konservasi air, Masjid Az-Zikra juga melakukan pengolahan sampah yang menghasilkan biogas yang digunakan sebagai sumber gas memasak di kantin masjid. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH-SDA) MUI, Hayu S. Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki kurang lebih 850 ribu masjid dan mushalla, dan jumlah tersebut akan memiliki kontribusi yang signifikan pada keberlanjutan lingkungan.

Berdasarkan pembelajaran di Az-Zikra, upaya “penghijauan” rumah ibadah menjadi penting dalam pengarustamaan pengurangan emisi GRK dan pelestarian lingkungan mengingat jumlah rumah ibadah di Indonesia yang terlampau banyak, dan fungsinya sebagai centre of excellence (pusat pembelajaran) bagi masyarakat.

IMG-20190812-WA0034 IMG_7248 IMG_7223 IMG-20190812-WA0038

 

 

Check Also

EBT (2)

acara The Opening Ceremony Of The 8th Indonesia EBTKE Conex 2019

Jakarta, 6 November 2019. Sebagai tindak lanjut dari disposisi Gubernur DKI Jakarta, Asisten Deputi Gubernur …