Home / Kegiatan / Forum Group Discussion (FGD) Pengelolaan dan Pengembangan Energi DKI Jakarta Menuju Provinsi Rendah Karbon
rendah karbon 1

Forum Group Discussion (FGD) Pengelolaan dan Pengembangan Energi DKI Jakarta Menuju Provinsi Rendah Karbon

rendah karbon 1 Rendah Karbon

Jakarta, 22 Agustus 2019. Telah dilaksanakan kegiatan Forum  Group  Discussion  (FGD)  Pengelolaan  dan  Pengembangan Energi DKI Jakarta Menuju Provinsi Rendah Karbon pada tanggal 22 Agustus 2019 di Dinas Perindustrian dan Energi Prov. DKI. (i) Pertemuan ini dipimpin oleh Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta didampingi Kepala Bidang Energi dan Ketenagalistrikan. Hadir dalam pertemuan ini Asisten Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup, Biro Perekonomian, Para Kepala Bidang di lingkungan Dinas Perindustrian dan Energi,  Para Kepala Seksi di lingkungan Dinas Perindustrian dan Energi, Suku Dinas Perindustrian dan Energi, Universitas Indonesia, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Perkumpulan Usaha Memajukan Anak Bangsa (UMA). Forum Group Discussion (FGD) dilaksanakan guna mendapatkan masukan dari para stakeholders  dalam  mewujudkan  DKI  Jakarta  menjadi  Provinsi  Rendah  Karbon  di sektor energi. Narasumber dalam Forum Group Discussion (FGD) berasal dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Perkumpulan Usaha Memajukan Anak Bangsa (UMA) dan Akademisi Universitas Indonesia. Menurunkan emisi sektor Transportasi dengan 2 tahapan: a.  Kendaraan (pribadi, umum, kereta, dsb) di dalam kota Jakarta menggunakan elektrifikasi. (Operasional MRT fase-2, LRT Jabodetabek, 500 bus listrik TJ) b.  Kebutuhan listrik dibangkitkan dengan Energi Terbarukan (jangan dengan PLTU/ PLTG), di daerah dekat Jakarta. Mengoperasikan Panel Surya (Solar Farm) 200 MW pada lahan sewa di Tangerang Selatan / Jonggol / Cibinong / Bekasi Utara (800 hektar) atau memanfaatkan 50% luasan Waduk Pluit /  Sunter / lainnya.   Demand Side Management, DSM : a. Untuk mencukupi tambahan daya listrik hingga 100 MW (untuk memasok sebagian daya operasional transportasi publik berbasis rel dan bis listrik), diterapkan efisiensi energi untuk mengurangi konsumsi listrik seluruh gedung hingga 20 – 30 %. (asumsi konsumsi listrik bisa mencapai 600 kW per gedung,  jika berkurang konsumsinya hingga 150 – 180 kW per gedung, maka dapat diterapkan pada 500 gedung di seluruh Jakarta); b. Pengembangan  Transit  Oriented  Development  (TOD)  juga  berpotensi mengurangi penggunaan kendaraan untuk berangkat / pulang (karena tinggal di hunian sekitar tempat beraktivitas tiap hari); c. Pemanfaatan panel surya atap dan baterai dengan skema leasing atau Renewabe Energy Service Company (RESCo) yang semakin terjangkau, dengan harga kompetitif dalam beberapa tahun mendatang berpotensi menurunkan konsumsi PLN.

Check Also

WhatsApp Image 2019-09-18 at 3.51.02 PM

Wawancara Mahasiswa Universitas Tarumanegara (UNTAR)

Jakarta, 17 September 2019. Mahasiswa Magister dari UNTAR, Ivan Billy Zaini, berkunjung ke kantor Kedeputian Gubernur …