Home / Kegiatan / FGD Kajian Penentuan Delineasi dan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kota Tua
IMG_0933

FGD Kajian Penentuan Delineasi dan Zonasi Kawasan Cagar Budaya Kota Tua

Jakarta, 4 September 2019. Kawasan Kota Tua merupakan kawasan dengan nilai-nilai sejarah dan potensi pariwisata yang besar, baik bagi Provinsi DKI Jakarta maupun bagi Indonesia. Kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang wajib dilestarikan. Berdasarkan hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka menentukan delineasi dan zonasi kawasan cagar budaya Kota Tua.

FGD tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, yaitu: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Kedeputian Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup/TRLH, Kedeputian Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata/Budpar, Bappeda, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman/DPRKP, Dinas Bina Marga/DBM, Dinas Sumber Daya Air/DSDA, Wilayah Administrasi Jakarta Barata, dan Unit Pengelola Kawasan Kota Tua/UPK Kota Tua), Praktisi, Akademisi, dan Pemerhati cagar budaya.

Dalam FGD tersebut, tim penyusun menjelaskan bahwa terdapat 3 kriteria utama dalam penentuan delineasi kawasan cagar budaya Kota Tua, yaitu: (i) Sebaran Bangunan Cagar Budaya; (ii) Sebaran Situs Cagar Budaya; dan (iii) Struktur Cagar Budaya (contoh: tembok Kota Tua, jalan, kanal, dan lainnya). Tim penyusun melakukan inventarisasi data dan informasi ketiga kriteria diatas melalui survei primer (contoh: survei geologi) dan sekunder (contoh: overlay peta kawasan Kota Tua). Berdasarkan analisis, sementara ini dihasilkan 4 zona utama di kawasan inti Kota Tua, yaitu: (i) Zona Museum Bahari; (ii) Zona Kali Besar; (iii) Zona Taman Fatahillah; dan (iv) Zona Taman Beos.

Menaggapi hasil tersebut, beberapa saran yang disampaikan dalam FGD adalah:

  • Penentuan delineasi kawasan cagar Budaya Kota Tua perlu memperhatikan kemudahan operasionalisasi dalam perizinan. Diharapkan tidak ditemukan petak lahan yang memiliki dua status, yaitu sebagai lahan kawasan cagar budaya dan sebagai lahan kawasan non cagar budaya.
  • Empat zonasi yang ditentukan masih tumpang tindih, sehingga perlu dicermati kembali fungsi dan perbedaan empat zonasi tersebut.
  • Dalam revisi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Provinsi DKI Jakarta, perlu dipertimbangkan kembali: (i) ketentuan zonasi kawasan Kota Tua; dan (ii) formula penentuan bonus Koefisien Lantai Bangunan (KLB). Hal ini selain karena banyaknya nilai-nilai sejarah di kawasan tersebut, juga untuk meningkatkan ketahanan kawasan Kota Tua dalam menghadapi perubahan kawasan sekitarnya.

Selain hal diatas, diharapkan delineasi kawasan cagar budaya Kota Tua dapat dengan jelas memperlihatkan perbedaan antara kawasan cagar budaya dengan non cagar budaya. Dengan demikian, pengunjung akan lebih mudah mengidentifikasi bahwa mereka berada di kawasan cagar budaya.

Berdasarkan FGD tersebut, tim penyusun akan melakukan penyempurnaan lebih lanjut terhadap hasil awal delineasi kawasan cagar budaya Kota Tua. Hasil kajian ini akan menjadi masukan dalam revisi Keputusan Gubernur No 1766 Tahun 2015 tentang Penetapan Kota Tua sebagai Kawasan Cagar Budaya.

Check Also

WhatsApp Image 2019-09-18 at 3.51.02 PM

Wawancara Mahasiswa Universitas Tarumanegara (UNTAR)

Jakarta, 17 September 2019. Mahasiswa Magister dari UNTAR, Ivan Billy Zaini, berkunjung ke kantor Kedeputian Gubernur …