Home / Kegiatan / Pertemuan dengan Tim Masyarakat Air Indonesia (MAI) membahas Penanganan Air Tanah di DKI Jakarta
WhatsApp Image 2019-09-27 at 13.46.55

Pertemuan dengan Tim Masyarakat Air Indonesia (MAI) membahas Penanganan Air Tanah di DKI Jakarta

WhatsApp Image 2019-09-27 at 13.46.55

Jakarta, 25 September 2019. Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup didampingi oleh Asisten Deputi Bidang Tata Ruang dan Asisten Deputi Bidang Lingkungan Hidup menerima kunjungan Tim dari Masyarakat Air Indonesia (MAI) yang terdiri dari Ibu Sarwo Handayani, Ibu Rulianti HM, Bapak Fatchy Muhammad dan Bapak Kelana Budi Mulia. Tujuan dari pertemuan ini adalah penyampaian pemahaman dan solusi terkait krisis air tanah dan potensi banjir di DKI Jakarta oleh Tim MAI. Penyampaian ini sebagai bentuk kepedulian para ahli terhadap keterancaman kualitas dan kuantitas air tanah serta potensi bencana banjir karena rendahnya resapan air di DKI Jakarta. Beberapa hal yang mengemuka dalam pertemuan ini adalah:

Data dan fakta krisis air dan banjir di DKI Jakarta adalah sebagai berikut:  (i)    Pada Tahun 2002 terjadi banjir lokal dan kiriman dengan curah hujan 550 mm/5 hari; (ii)   Pada Tahun 2007 terjadi banjir lokal dengan curah hujan 500 mm/5 hari; (iii) Pada tahun 2013 terjadi banjir kiriman yang disebabkan oleh jebolnya Banjir Kanal Barat yang mengakibatkan Istana Negara terendam; (iv)  Pada tahun 2017 tepatnya 16 Februari dan 21 Februari terjadi banjir lokal dan kiriman; (v)   Pada tahun 2016, DKI Jakarta mengalami krisis air bersih. Dari total kebutuhan 26.100 liter/detik baru tersedia 17.000 liter/detik sehingga masih ada kekurangan sebesar 9.100 liter/detik. Akar permasalahan krisis air dan banjir di DKI Jakarta adalah perubahan tata guna lahan di DKI Jakarta. Banyak rawa yang merupakan daerah resapan “tempat parkir air” berubah menjadi bangunan dan gedung tinggi. Solusi dalam mengatasi Banjir Rob dan krisis air bersih di Jakarta Utara adalah: (i)    Dengan membangun tanggul penahan air pasang; (ii)   Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH); (iii) Menyiapkan Kolam Retensi (penyimpan air)/Ruang Terbuka Biru; (iv)  Pemanenan air hujan (Rain Harvesting) dengan cara menampung dalam storage. Solusi dalam mengatasi banjir lokal (hujan yang turun di DKI Jakarta) adalah: (i)   Menghindari Normalisasi dalam bentuk Horizontal Drainage dan diubah menjadi Konservasi Vertical Drainage (Zero Run Off); (ii) Pengembangan RTH ( Ruang Terbuka Hijau ) DKI Jakarta; (iii) Pengembangan RTB ( Ruang terbuka Biru ) seperti waduk/danau/embung di DKI Jakarta; (iv) Melakukan Artificial Recharge oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sampai sebesar 50 % dan oleh masyarakat kelas menengah sebesar 50 % (sumur resapan dangkal dan dalam) sedangkan masyarakat kelas bawah berpartisipasi dalam membuat lubang biopori. Solusi dalam mengatasi banjir kiriman dari daerah Bogor serta Puncak adalah: (i)   Memanfaatkan potensi waduk resapan di Sungai Purba untuk menahan debit air yang masuk ke wilayah Jakarta; (ii) Air hujan yang tertampung pada waduk resapan dimanfaatkan sebagai air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan/atau untuk pengisian kembali kedalam aquifer bertekanan. DKI Jakarta memiliki 8 Daerah Aliran Sungai (DAS), 7 DAS mencakup daerah diluar wilayah DKI Jakarta dan 1 DAS (Mampang) yang berada sepenuhnya di wilayah DKI Jakarta. Daerah Aliran Sungai tersebut adalah: DAS Angke; DAS Pasanggrahan; DAS Grogol; DAS Krukut; DAS Ciliwung; DAS Cipinang; DAS Sunter; DAS Mampang.

Check Also

EBT (2)

acara The Opening Ceremony Of The 8th Indonesia EBTKE Conex 2019

Jakarta, 6 November 2019. Sebagai tindak lanjut dari disposisi Gubernur DKI Jakarta, Asisten Deputi Gubernur …