Home / Kebijakan Berbasis Riset Bantu Tekan Resiko Perubahan Iklim

Kebijakan Berbasis Riset Bantu Tekan Resiko Perubahan Iklim

Jakarta, Humas LIPI. Tingginya jumlah bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan iklim global membutuhkan pendekatan baru dalam mengatasinya. “Penguatan kapasitas ilmu dalam mendorong kebijakan berbasis riset harus segera dilakukan dalam menekan risiko bencana akibat perubahan iklim global,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain pada workshop internasional dengan tema “Low-Regret Adaptation for Social Transformation and Policy Changes on Climate and Disaster Risks in Coastal Areas in Indonesia and South East Asia” yang diselenggarakan oleh LIPI bekerja sama dengan University of Hannover (FI) dan United Nations University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS), didukung oleh German Ministry of Education and Research (BMBF) di Jakarta, Senin (14/3).

berita_iciar_600x5001

Menurut Iskandar, perubahan iklim global dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kerugian besar di negara-negara berpantai sebagai wilayah yang rentan terkena dampak. “Sebut saja banjir di Jakarta yang menyebabkan kerusakan properti dan kerugian sekitar 4,7 triliun rupiah dan kerugian peluang ekonomi sekitar 18,8 triliun rupiah,” jelasnya. Padahal, sekitar 65 persen populasi Indonesia yang tinggal dengan jarak 50 kilometer dari garis pantai, dan 75 persen kota-kota Indonesia terdapat di daerah pantai. “Pengelolaan manajemen risiko menjadi hal yang penting agar kerugian dapat berkurang secara signifikan,” ujar Iskandar.

Kerja Sama dan Kolaborasi

Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Oswar M. Mungkasa yang mewakili Gubernur DKI Jakarta mengharapkan adanya koordinasi antara peneliti dengan pengambil kebijakan. “Selama ini, banjir, kenaikan permukaan laut, penurunan permukaan tanah dan sebagainya belum masuk ke dalam sebuah bidang yang terintegrasi di bawah payung perubahan iklim. Jadi, untuk mengatasinya pun pemerintah masih bertindak parsial,” jelasnya.

Oswar juga mengungkapkan pengambil kebijakan masih berkutat dengan cara untuk mengatasi bencana, namun belum menelisik sumber dari bencana itu sendiri. Oleh karena itu, sambungnya, pemerintah perlu didorong dengan hasil-hasil penelitian agar paradigma yang sudah ada bisa berubah.

Sementara itu, Vice Rector for the United Nations University in Europe, and Directorof UNU-EHS, Jakob Rhyner mengungkapkan bahwa kerja sama dan kolaborasi para ilmuwan dari berbagai negara sangat penting dalam menghadapi isu-isu global. “Khusus dengan LIPI, kami telah melakukan peningkatan kapasitas penliti melalui pertukaran mahasiswa dan peneliti, serta riset bersama,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Jakob juga mengungkapkan pentingnya transfer pengetahuan, tidak hanya bagi peneliti tetapi juga sektor privat dan industri. “Kerja sama seperti ini sangat penting, dan diharapkan dapat terbangun dalam jangka yang panjang,” imbuhnya. (msa/ed: fza)

Sumber foto berita utama: iberita.com